Di Kendari Ini, Seakan Di Karantina

Kendari, 4/8 (Pinmas) - Kafilah provinsi Bali dalam MTQ Nasional XXI 2006 di Kendari, Sultra hanya absent pada cabang tilawah tuna  netra sementara cabang cabang lainnya yang  diperlombakan kafilah berjumlah 44 orang ini  menurutkan peserta andalannya. “Kami tidak mengirimkan peserta hanya pada cabang cacat netra, selebihnya untuk cabang cabang yang diperlombakan kami kirimkan peserta”, ujar pimpinan kafilah pulau dewata ini ketika ditanyakan tentang keikut sertaan merekadalam lomba baca seni Al Quran yang dijadwalkan akan ditutup oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla, Sabtu (5/8) malam ini. Dihubungi ketika berada di lokasi Pameran dan Bazar MTQ XXI 2006 yang berlokasi tidak begitu jauh dari arena utama pimpinan kafilah Bali, Syaifuddin lebih jauh memberikan komentar terhadap pelayanan penyelenggara daerah MTQN XXI 2006. Menyinggung tentang pelayanan Panitia Penyelenggara Daerah dia teringat ketika mengikuti STQ Nasional setahun lalu di Gorontalo setahun lalu. MASUK KARANTINA Karena infrastruktur di kota Gorontalo terbatas dan, hotelnya tidak sebanyak di Kendari maka sebagian besar peserta diinapkan di rumah penduduk.

“Ternyata dengan menginap di rumah penduduk bisa terjalin silaturahim yang akrab dan kami bisa kemana mana bersama penduduk di sana”, ujar pimpinan kafilah yang kehadiran mereka di Kendari untuk menimba pengalaman. Sementara selama berada di Kendari, diakuinya, keberadaan mereka seakan dimasukkan ke dalam karantina “ Sekarang ini kami merasa masuk karantina”, jelasnya pimpinan kafilah beranggotakan 44 orang. Karena tinggal di hotel, lanjutnya mereka tidak pernah kenal dengan penduduk. Bahkan kami tidak pernah mendengarkan bahasa orang Kendari. “Bagaimana bahasa orang sini, kami kepingin tahu, bagaimana sebenarnya. Terus terang saja kami rindu, ingin mendengar dan merekam bahasa daerah disini kaya apa” tuturnya Tinggal di hotel (penginap) yang disediakan panitia dirasakannya cukup mengganggu karena jarak, jauhnya lokasi penginapan menuju arena lomba. “Saya anggap masalah ini serius. Meskipun pihak panitia menyediakan alat transportasi” paparnya.

Pihak panitia, akunya, menyediakan alat transportasi berupa sebuah bis. Namun sarana ini disayangkan, dinilai tidak praktis untuk mengangkut hanya 2 orang saja. “Masa untuk mengangkut 2 orang saja harus dengan bis lokasi lomba. Kasihan mobil besar itu hanya membawa dua orang ke lokasi pertandingan. Meski disediakan pula mobil kecil tetapi sangat terbatas. Kafilah Bali di tempatkan di hotel Himalaya. Hotel ini masih baru sebuah rumah yang direnopasi menjadi hotel menjelang pelaksanaan MTQN XXI 2120 Kendari. KURANG SIAP Dia juga menyayangkan persiapan yang kurang siap di hari pertama perlombaan sehari setelah dibuka Presidern “SBY” pada Sabtu 29 Juli 2006 lalu.

“Bisa dibayangkan jam 11.15 wita lomba baru dimulai sementara peserta pada jam 08.00 sudah disuruh datang. Lamanya menunggu itu sudah membuang energi bagi peserta”, keluhnya dengan harapan peristiwa serupa jangan sampai terulang pada MTQN mendatang. Syaifuddin juga menyinggung pada kesempatan itu tentang kinerja anggota Dewan Hakim yang menjelang akhir lomba banyak dipermasalahkan. Misalnya, tentang kejadian pada cabang lomba tahfiz 1 juz Salah satu jurinya lupa menaruh dan menyetorkan nilai ke bagian rekap sehingga pada saatnya nilai itu ditunggu belum juga muncul sementara juri yang bersangkutan sempat pergi keluar ruang untuk sholat. (Thamrin/ Ba).


REKOMENDASI