Dhammassavanam

“Svakkhato bhagavata dhammo, sandittiko akaliko ehipassiko, opanayiko paccattam veditabbo vinnuhi’ti” 

“Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava, berada sangat dekat, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh bijaksanawan dalam batin masing-masing” (Dhammanussati)

Sesungguhnya Dhamma ini begitu mendalam, sangat sulit untuk difahami, damai, luhur, halus, dan hanya dapat diselami oleh para bijaksanawan sehingga Sang Buddha pada mulanya ragu-ragu untuk mengajarkannya. Dhamma diajarkan Sang Buddha atas permohonan Brahma Sahampati bahwa masih banyak makhluk di alam semesta ini yang hanya memiliki “sedikit debu” (kiasan untuk menyatakan kekotoran batin yang halus/asava) dan dapat menerima manfaat dari ajaran Dhamma tersebut, sehingga dengan cinta kasihnya yang begitu besar, Sang Buddha menerima permohonan tersebut. 

Bagi umat Buddha, mendengarkan dhamma bukan saja merupakan kewajiban untuk menambah wawasan dan pengetahuan, namun juga merupakan salah satu dari 30 berkah utama (mangala) yang dinyatakan Sang Buddha dalam Mangala Sutta Khuddakapatha. Khotbah itu disampaikan Sang Buddha suatu saat ketika beliau berada di Savatthi, di hutan Jeta, di vihara Anathapindika. Dalam Mangala Sutta Khuddakapatha, bait ke 10, Sang Buddha menyatakan: “…kalena dhammassavanam, Etammangalamuttamam, ti.” Artinya: “…mendengarkan dhamma pada saat yang sesuai, itulah berkah utama”.

Sebenarnya mendengarkan dhamma dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Namun ada saat-saat terbaik di mana umat Buddha dapat mendengarkan Dhamma dengan seksama dan penuh perhatian. Saat tersebut adalah ketika pikiran sedang relaks, fokus, dan tidak terganggu oleh pekerjaan atau aktifitas lainnya. Saat ideal seperti itu dapat dengan mudah dikondisikan seperti saat sesi ceramah dhamma oleh bhikkhu atau pandita di vihara. Kita juga dapat mengkondisikan pikiran yang relak dan berkosentrasi baik tanpa gangguan apapun saat mendengarkan dhamma melalui ceramah online dan media lainnya. Mendengarkan Dhamma sambil bekerja atau melakukan aktifitas lain dapat membuat konsentrasi kita menjadi terganggu atau terbelah sehingga pemahaman kita terhadap Dhamma yang disampaikan dapat menjadi bias atau bahkan menerima dengan persepsi keliru karena terpotong-potong dan/atau mendengarkan secara tidak lengkap.

Mendengarkan dhamma merupakan suatu keberuntungan atau berkah utama (mangala) karena: pertama, tidak setiap saat kita dapat memilki kesempatan untuk mendengarkan dhamma. Bahkan di dalam Dhammapada syair 182 disebutkan bahwa “…sungguh sulit untuk dapat mendengarkan ajaran benar (dhamma)”. Kedua, mendengarkan Dhamma bermanfaat menambah wawasan, pengetahuan serta pemahaman kita yang terbatas. Apalagi jika kita mendengarkan Dhamma secara berulang-ulang sehingga sesuatu yang belum jelas menjadi semakin jelas dan terang.

Mendengarkan Dhamma juga bermanfaat membuang keragu-raguan, dan meluruskan pandangan yang keliru, dan  ketiga, Dhamma merupakan persembahan yang tetinggi. (“Sabbadanam Dhammaanam jinati”) karena dapat membuat karakter seseorang menjadi lebih baik dan bijaksana, serta membawa ke pencerahan. Karena itu sebagai umat Buddha yang sudah selayaknya kita dapat mengkondisikan saat-saat yang tepat untuk dapat mendengarkan dhamma agar wawasan dan pengetahuan kita menjadi bertambah dan semakin bijaksana dalam memandang setiap fenomena kehidupan ini.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.