Bina Penyuluh Agama Kalbar, Sekjen Ingatkan Tiga Tantangan Keberagamaan

Kalbar (Kemenag) --- Sekjen Kemenag Nizar Ali mengingatkan adanya tiga tantangan yang dihadapi Indonesia dalam konteks keberagamaan dan kebangsaan.

Hal ini disampaikan Sekjen saat mberikan pembinaan Moderasi Beragama kepada penyuluh agama dan ASN Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Barat. Hadir, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Rektor dan Kepala AUAK IAIN Pontianak, Kepala Bidang, Pembimas, para Sub Koordinator Kanwil Kementerian Agama Prov. Kalbar, serta 100 Penyuluh Agama yang ada di Kota Pontianak, Kab. Kubu Raya dan Kab. Mempawah.

Bergabung pula secara daring, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab/Kota se-Kalbar, Kasi Bimas Islam se-Kalbar, Kepala Madrasah Negeri se-Kalbar, dan seluruh ASN di lingkungan Kanwil Kemenag Prov. Kalbar.

Menurut Nizar, Indonesia saat ini dihadapkan pada tiga tantangan keberagamaan dan kebangsaan. Pertama, berkembangnya cara, sikap, dan perilaku beragama yang ekstrem yang mengabaikan martabat kemanusiaan. 

“Saat ini masih terjadi berbagai kejadian yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Ini tentu sesuatu yang dilarang dalam agama. Sudah banyak tragedi yang terjadi di Indonesia yang mengabaikan martabat kemanusiaan, dan ini menjadi sejarah kelam yang tak boleh terulang,” terang Nizar di Aula Kanwil Kementerian Agama, Sabtu (26/11/2022). 

Kedua, berkembangnya klaim kebenaran subjektif dari tafsir agama. Orang dengan pemahaman seperti ini, menolak perbedaan dan mengklaim hanya pendapatnya yang benar, sedang lainnya salah. 

“Padahal, warna warni perbedaan pemahaman mestinya menjadi sebuah kekayaan yang luar biasa dan patut dijaga agar tidak menjadi penyebab terjadinya perpecahan,” terangnya. 

Ketiga, berkembangnya cara pandang, sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan. Nizar mencontohkan, sikap menolak hormat kepada bendera merah putih saat upacara, atau mengharamkan ikut serta menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dalam setiap kesempatan.

Dikatakan Nizar, permasalahan ini penting dicarikan solusinya jika ingin menciptakan harmonisasi di tengah-tengah masyarakat. Salah satu solusinya adalah penguatan moderasi beragama. 

“Jika secara konseptual moderasi beragama sudah difahami dan diterapkan, insya Allah Indonesia akan damai, di tengah banyaknya keberagaman dan perbedaan” tuturnya.

Moderasi beragama, lanjut Sekjen, bukanlah hal yang absurd yang tidak bisa diukur. Keberhasilan moderasi beragama dapat dilihat dari empat indikator, yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi.

“Jika keempat indikator ini bernilai tinggi, maka dipastikan bahwa moderasi beragama di wilayah tersebut sudah baik. Namun bukan berarti sudah aman. Sebab, jika moderasi beragama tidak dipelihara dan dipupuk dengan baik, maka bukan tidak mungkin perpecahan dan ketidakharmonisan bisa terjadi sewaktu-waktu,” tegasnya.

Kepala Kanwil Kemenag Kalbar, Muhajiirin Yanis, menyampaikan bahwa keberagaman telah bersemi di Kalimantan Barat. Bukan hanya agama, namun suku, bahasa, dan budaya yang beragam ada di Kalbar. 

Menjaga keberagaman dan upaya meningkatkan moderasi beragama terus dilakukan, salah satunya dengan menggandeng Penyuluh Agama sebagai garda terdepan dalam memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat. “Sebagai wujud komitmen, Kanwil Kemenag Prov. Kalbar menetapkan Kelompok Penyuluh Agama sebagai Duta dan Pelopor Moderasi Beragama,” ujar Muhajirin. 

Pengukuhan Duta dan Pelopor Moderasi Beragama di Kalimantan Barat dilakukan oleh Sekjen Kemenag. Muhajirin berharap seluruh duta dapat memberikan kontribusi baik dalam peningkatan moderasi beragama di Kalimantan Barat.