Refleksi Minggu

Atas Penentuan Tuhan dan Perkenanan Tuhan, Semua itu, Terjadilah!

Penentuan dan restu dari orang berotoritas, yang mampu mengontrol semua proses yang harus dilalui, agar dapat mencapai target semestinya – menjadi  bagian penting dari pekerjaan manajerial, pekerjaan team untuk mewujudkan karya sebuah proyek besar yang melibatkan banyak orang dan banyak ahli di bidangnya masing-masing.

Namun, tak kurang fakta, orang-orang berotoritas dan berkompetensi tersebut—dapat gagal karena gagal mengendalikan situasi, fakta dan faktor X yang muncul di luar dugaannya.

Itulah keterbatasan otoritas dan kompetensi manusia hebat berhadapan dengan situasi  lingkungan yang tak terduga dan gangguan faktor X. Belum lagi, otoritas dan kompetensi dirinya memang sedang melemah dan merosot.

Tetapi, bagaimana dengan penentuan Tuhan?

Dalam Yunus 1: 17 disebutkan, Maka atas penentuan [Manah = penetapan/perhitungan /kalkulasi] Tuhan [mempersiapkan] [datanglah] seekor ikan [DA’AG=bergerak dengan kibasan ekor] besar menelan Yunus [BALA=menelan, melanda] dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

Firman ini ditulis dengan latar belakang peristiwa: Nabi Yunus diutus Tuhan ke Niniwe, untuk menyampaikan undangan pertobatan bagi penduduk di sana. Niniwe adalah kota besar berpenduduk lebih dari 120.000 ribu orang, yang kejahatannya telah melampaui batas. Jika tidak bertobat akan di hukum oleh Allah (4;11)

Nabi Yunus melarikan diri dari pangutusan Tuhan—dia pergi naik kapal ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan (1:3). Tuhan mendatangkan: angin ribut ke laut dari Yafo menuju Tarsis – terjadilah badai besar, sehingga kapal hampir terpukul hancur (1:4)

Ketakutan dahsyat di kapal, terjadi. Segala upaya mengatasi badai besar ditempuh, sampai pada perintah untuk “memanggil Allah, memohon perolonganNya" dan cara-cara rohani/ mistik ditempuh, dengan membuang undi (1:6-7)

Yunus mengakui dosa ketidak taatannya  pada Tuhan... badai besar di laut itu terjadi karena dirinya...Yunus minta dibuang ke laut saja (1:10-17)

Atas penentuan Tuhan, Turunlah angin ribut ke laut dan menjadi badai besar yang nyaris menenggelamkan kapal (1:4). Atas penentuan Tuhan dan perkenanan Tuhan, waktu Yunus sudah terbuang ke laut—laut pun berhenti mengamuk (1:15)

Bagaimana dengan Yunus yang dilempar kan ke dalam laut? 

Atas penentuan Tuhan: Dalam laut yang bergelora, Yunus dilemparkan, awak kapal tak tahu bagaimana nasib Yunus—itulah yang menjadi rasa bersalah awak kapal memutuskan hal  itu—dan memang laut menjadi tenang.

Tuhan Allah telah mempersiapkan dan menentukan [Manah] hadirnya ikan besar itu pada tempat yang tepat, dan pada saat yang tepat, memberikan ruang/tempat yang tepat bagi Yunus, “mulut ikan dan perut ikan”

Penentuan Tuhan ini menyatakan otoritas dan kompetensi Allah yang Mahakuasa, Mahatahu, berkarya dengan cara-Nya, punya maksud dan tujuan-Nya yang mengherankan:

Dia berkuasa atas angin dan ombak. Dia berkuasa atas ikan dan binatang dalam laut. Dia berkuasa atas tempat/ topos dan waktu baik chronos dan kairos. Ikan besar itu dipakai oleh Tuhan menjadi kendaraan penyelamatan bagi Yunus (seperti kapal selam penyelamat—di bawah laut)

Yunus, layaknya mati tenggelam di laut... jika Tuhan tidak mengutus ikan besar itu. Yunus, layaknya mati dalam perut ikan walaupun ada ruang yang luas cukup menampung dirinya: dia bisa keracunan, dia kurang oksigen bersih, jika kelamaan di dalam perut ikan itu, tentu Yunus akan mati lemas.

Yunus, di tempatkan dalam kondisi harus merima penghukuman Tuhan atas segala dosa dan kesalahannya pada Tuhan. Penghukuman Tuhan yang menjadi proses pembelajaran; Tuhan mendidik Yunus agar dia menjadi lebih dewasa dalam iman dan kerohanian.

Dalam perut ikan tersebut, Yunus tidak bisa bebas menuruti kemauannya sendiri. Yunus hanya bisa berefleksi, mengingat kebaikan Tuhan dan berkomitmen pada apa yang akan dilakukannya bagi Tuhan.

Yunus menjadi sadar akan segala dosanya. Dia menyesal dan bertobat. Semangatnya diperbaharui lewat selamat dan alami sengsara berat di dalam perut ikan itu.

Setelah tiga hari tiga malam dalam perut ikan itu—atas penetapan Tuhan, ikan itu memuntahkan/ menyemburkan Yunus ke darat. Dalam Yunus 2:10 dijelaskan, Lalu berfirmanlah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan [Qayah=semburkan] Yunus ke darat.

Penentuan dan perkenanan Tuhan sering menjadi alasan penting, terjadinya karya penyelamatan Tuhan yang mengherankan dan menakjubkan.

Kok bisa, ombak lautan yang bergelora itu menjadi tenang ketika Yunus dilemparkan ke laut dan tercebur ke dalam lauta bergelora itu? Kok bisa, pada saat yang tepat itu lewatlah ikan besar yang mampu menelan Yunus, dan memasukkannya ke dalam perut nya yang lebar dan besar daya tampungnya, dan tetap ada sirkulasi oksigen yang dibutuhkan oleh Yunus. Sehingga, Yunus bisa tetap hidup dan bisa berfikir, dan otaknya masih dapat mengingat dan tahu, di mana dirinya sekarang ini.

Penghukuman Tuhan sebagai  Pendisiplinan Tuhan atas pelanggaran dan dosanya pada Tuhan telah membawanya pada pembaharuan sikap dan komitmen dirinya pada Tuhan.

Setelah cukup waktunya penghukuman Tuhan, tiga hari tiga malam dalam perut ikan yang pengap dan tak bebas itu, akhirnya Tuhan memerintahkan ikan itu untuk memuntahkan/ menyemburkan Yunus di daratan.

Atas penentuan Tuhan, Yunus mau taat menggenapi panggilan dan pengutusan Tuhan: menyampaikan berita penghukuman Tuhan yang akan menimpa Niniwe dalam waktu jeda, 40 hari mendatang, yaitu jika Niniwe tak mau bertobat dari kejahatan mereka dan dari kekerasan mereka (3:4, 8 – 9)

Dalam seharian perjalanannya di Niniwe, Yunus menyampaikan khotbahnya (3:4). Mendengar khotbah Yunus itu, Penduduk Niniwe bertobat, minta ampun kepada Tuhan. Raja mengumumkan masa perkabungan, puasa massal dan puasa total untuk memohon belas kasihan Tuhan. Sebab mereka bertekad bertobat (3:5-8). Allah membatalkan rencanaNya (3:10)

Yunus dipakai oleh Tuhan secara luar biasa untuk membawa penduduk Niniwe pada pertobatan besar dan pertobatan masal.– Buah pelayanannya dalam 1 – 3 hari itu telah menobatkan penduduk sebuah kota besar saat itu. Sehingga Allah membatalkan penghukumanNya. Amin