Allah yang Baik Hati

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus! Perumpamaan tentang domba, dirham, dan anak yang hilang adalah rangkaian kisah dalam Injil Lukas yang sangat menarik dan inspiratif. Kisah ini menarik karena menyentuh kalbu agar manusia masuk dalam relung hatinya dan merasakan betapa Allah mengasihinya meskipun manusia berdosa. Kisah ini juga inspiratif karena menggugah dan mendorong  setiap orang beriman agar menghayati hidup sebagaimana Allah baik baginya.

Mengapa Allah begitu baik hati pada manusia? Jawaban atas pertanyaan reflektif ini adalah karena “berharganya” setiap manusia di mata Allah. Setiap pribadi berharga. Karena berharganya setiap pribadi di mata dan hati Allah, Allah tetap mengasihinya betapa pun manusia berdosa.

Allah tidak menghendaki manusia binasa, meskipun hanya satu orang. Kebaikan hati Allah sungguh nyata ketika Allah terus mencari sampai menemukan domba, dirham, dan anak yang hilang meskipun “hanya satu”.

Kisah domba, dirham, dan anak yang hilang adalah kisah realitas dosa manusia yang berakibat pada kebinasaan/kehancuran manusia. Dalam situasi dosa, manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya Allah yang bisa menyelamatkan manusia. Allah hanya  membutuhkan satu sikap dari manusia yaitu bertobat sebagaimana dalam kisah anak yang hilang kembali pada pangkuan bapaknya.

Melalui perumpamaan-perumpamaan tersebut, Santo Lukas hendak mewartakan bahwa Allah adalah sosok bapak yang sungguh baik hati. Kebaikan hati Allah tampak pada gambaran sikap Allah ketika sesuatu yang “hilang” ditemukan.

Upaya menemukan kembali domba, dirham, dan anak yang hilang pertama-tama datang dari Allah. Allah yang baik hati dan kasih-Nya pada anak bungsu yang hilang namun kembali adalah kisah yang sangat menyentuh hati. Meskipun masih jauh, sang ayah telah melihatnya, berlari mendapatkan, merangkul, dan mencium sang anak.

Posisi anak yang hendak pulang meskipun masih jauh dari rumah, tidak menjadi penghalang kasih sang ayah pada anak. Ayah tidak menunggu anaknya tiba di rumah, tetapi kisah semakin menarik karena ayah berlari menjemput anaknya. Tidak cukup di sini, ayah merangkul dan mencium anaknya.

Ekspresi Allah sebagai Bapak yang baik hati pada anak-Nya tergambar melalui rangkulan dan ciuman. Ungkapan cinta Allah ini alami sekaligus ilahi. Sebagai orang beriman, kita bersyukur bahwa Allah begitu peduli pada nasib manusia yang malang dan sesat.

Allah begitu gembira setelah  menemukan domba, dirham, dan anak yang “hilang”. Hal yang menarik dalam kisah-kisah ini adalah Allah mengajak orang yang ada di sekitarnya (tetangga) turut merayakan kegembiraan tersebut. Allah tidak hanya mengalami kegembiraan itu seorang diri, akan tetapi bersama orang lain.

Allah mengadakan pesta sebagai  perayaan kegembiraan dan syukur, karena yang “hilang” sudah kembali pada rangkulan kasih-Nya. Dalam kisah ini, alurnya semakin memesona karena tidak cukup  Allah “menemukan” kembali yang “hilang”, akan tetapi Allah mengadakan pesta dalam suasana suka cita bersama orang lain.

Kisah kasih Allah sebagai gambaran bapak yang baik hati semakin menunjukkan puncaknya. Sang ayah meminta hamba-hambanya untuk mengambil jubah terbaik dan dipakaikan pada anaknya, cincin dikenakan pada jari, sepatu pada kaki anaknya, dan menyembelih lembu tambun untuk pesta. Pemberian jubah, cincin, sepatu, dan lembu tambun oleh ayah pada anak adalah barang-barang yang istimewa.

Tampaknya pemberian barang-barang tersebut mahal harganya. Lewat pemberian “hadiah” tersebut, Santo Lukas hendak mewartakan bahwa kasih dan kebaikan Allah tidak tanggung-tanggung bagi manusia. Allah memberikan yang spesial bagi manusia yang bertobat. Kasih Allah dahsyat bagi manusia.

Kristoforus Sinselius (Pembimas Katolik Kanwil Kemenag DIY)


REKOMENDASI