Alif Menembus Batas 

Dengan tema Islam dan Negara Kesejahteraan, Alif Silfia Luthfiyah, tampil dan berhasil memesona para dewan juri Akademi Sahur Indonesia (Aksi) 2022. Dalam Grand Final yang berlangsung di pengujung Ramadan 2022, acara yang digelar stasiun televisi Indosiar ini menahbiskan mahasiswi Unsiq Wonosobo tersebut menjadi juara ke-3.

Ikut hadir dalam Grand Final Aksi 2022, Meneg BUMN Erick Thohir. Pada kesempatan tersebut, Erick menyampaikan perlunya keseimbangan antara akal dan akhlak yang mendukung pembentukan karakter individu. Dalam kaitan tersebut, Erick menilai program Aksi dan semacamnya sebagai acara yang sangat diperlukan dalam pembentukan dan pengembangan  karakter islami pada generasi muda dan masyarakat secara luas.

Tanpa menghilangkan arti penting capaian  Ilyas (juara pertama) dan kembar Rena Reni (juara kedua), Alif dalam capaiannya adalah sebuah raihan yang menembus batas, mewakili produk pendidikan Islam dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi. Alif Adalah lulusan MTsN 1 Pati, MA Raudhatul Ulum Guyangan-Pati, dan kini sedang menyelesaikan pendidikan di Unsiq Wonosobo. 

Kepada tim media PAI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Alif menuturkan pengalaman berharganya selama menjalani kompetisi Aksi 2022 dan bagaimana peran lembaga pendidikan Islam dalam membentuk kompetensi syiarnya, langsung dari Ds Kepohkencono, Pucakwangi, Pati, Senin (9/5/2022).

Selamat Alif, atas capaian pada Aksi 2022.  Bisa diceritakan bagaimana awal mula  ketertarikan Alif terhadap Aksi 2022? 

Sejak kecil, saya punya impian menjadi seorang bu nyai. Impian itu terus saya jaga, apalagi orang tua sangat mendukung—ditunjang latar belakang keluarga yang dekat dengan orang-orang baik. Bapak merupakan seorang modin desa, sementara Ibu pernah menjabat sebagai Ketua PAC Fatayat NU (kecamatan).

Ketika sudah remaja, saya mulai menonton AKSI sebagai kompetisi dakwah nasional di panggung televisi. Saya senantiasa membatin bahwa kelak harus mengikuti kompetisi tersebut untuk belajar semakin disiplin. Alhamdulillah, Allah menunjukkan kemurahan-Nya tahun ini.

Bisa diceritakan awal mula ketertarikan hingga mengikuti proses Aksi 2022 sampai Grand Final? Bagaimana suka dukanya?

Meski waktunya pendek, AKSI 2022 fasenya lumayan kompleks. Saya ikut audisi online dengan mengunggah video di Youtube. Dari ratusan bahkan ribuan pendaftar di tanah air, yang diundang ke Jakarta hanya 24 orang. Sebelum berangkat, saya minta petunjuk dan restu dari para kiai, ustaz/ustazah, dan pemimpin daerah, seperti bupati. 

Waktu sudah di sana, suka-dukanya banyak sekali. Sukanya bisa bertemu orang-orang baik dan cerdas dari banyak daerah, menimba ilmu dari para ustaz dan dewan juri, serta belajar tentang dunia dakwah yang lebih luas. Dukanya juga hmm.. mantap. Waktu awal-awal mungkin saya masih bisa beristirahat cukup. Tapi, ketika sudah pertengahan sampai grand final, waktu untuk tidur bahkan sedikit sekali. Bahkan mungkin hanya 3 jam sehari. Pokoknya harus benar-benar lari (menyesuaikan ritme dengan jadwal televisi). Meski begitu, saya meniatkan semua untuk belajar. Jadi selelah apa pun harus tetap dijalani.

Bagaimana dukungan orang tua, keluarga, dan  lingkungan dalam keikutsertaan Alif pada Aksi 2022? 

Alhamdulillah luar biasa. Saya sampai terharu melihat perjuangan semuanya. Orang tua tentu mendukung baik itu pada aspek materi, spiritual, dan seterusnya. Begitu pula keluarga besar. Seluruh organisasi atau institusi yang terkait dengan saya juga mendukung dengan penuh antusias, mulai dari Banom NU, almamater (sekolah, pondok, kampus), hingga ikatan alumni.

Keikutsertaan pada AKSI juga memantik dukungan/simpati dari berbagai macam golongan. Misalnya dari Paguyuban Sopir Pati, Ikatan Nelayan Pati, dan seterusnya. Setiap kali saya melihat akun medsos, saya selalu tersentuh membaca doa-doa dari para sahabat.

Penampilan Alif sangat meyakinkan dalam membawakan materi lomba dakwah pada Aksi 2022, bagaimana peran lembaga pendidikan Islam mulai dari level menengah (MTs-MA) hingga PTKI (Unsiq) dalam menumbuhkan dan membentuk bakat serta kemampuan dakwah Alif? 

Seluruh lembaga Islam yang menjadi tempat saya belajar benar-benar memberikan dampak pada impian sekaligus kemampuan dakwah. Saya merasakan betul tentang ini. Pasalnya, passion saya di dunia dakwah benar-benar diakomodasi di MTs N 1 Pati, MA Raudhatul Ulum Guyangan, hingga UNSIQ. Institusi tersebut senantiasa menyediakan ruang bagi saya untuk berkembang—dibimbing oleh asaatidz atau kiai yang ilmunya luar biasa.

Pondok-pondok yang menjadi tempat saya mencari ilmu juga sangat berperan dalam membentuk saya, mulai dari PPTQ Al Kahfi hingga PPTQ Baitul Abidin. Semuanya memberikan berkah.

Tampil di panggung sekelas Aksi 2022 tentu sangat membutuhkan tekad besar dan kemampuan penguasaan panggung yang mumpuni. Bagaimana tips dan tricks Alif secara personal dalam mengatasi demam panggung atau tekanan panggung yang demikian besar? 

Untuk saya, kestabilan psikologis merupakan hal penting. Sebelum tampil, saya memastikan tidak ada hal tertentu yang nantinya mengganggu pikiran. Kalau ada sesuatu yang terasa ngganjel, lekas dicari cara mengatasinya bagaimana.

Selain itu, keteguhan di panggung mungkin sesederhana bisa terwujud karena mengingat doa dan dukungan dari orang-orang yang saya sayangi dan menyayangi saya, terutama orang tua. Dengan begitu, saya jadi fokus untuk menampilkan yang terbaik.

Dalam pengalaman Alif, apakah lembaga pendidikan Islam, sebagai latar pendidikan Alif, memberikan kemungkinan dan dukungan pengembangan kompetensi dakwah pada peserta didiknya? 

Sangat mungkin. Institusi/lembaga Islam terbukti mampu menyebarkan dan memupuk nilai-nilai agamais, termasuk dalam berdakwah, kepada para murid. Yang penting kuncinya bersungguh-sungguh. Gurunya sungguh-sungguh, muridnya juga.

Membawakan tema Islam dan Negara Kesejahteraan pada Grand Final Aksi 2022, penampilan Alif banyak menuai tanggapan positif. Ustaz Solmed merangkum konsep nagara kesejahteraan dalam pandangan Islam tersebut, berdasar materi Alif, dalam tiga kondisi dasar (kebebasan, masyarakat yang kenyang, dan aman). Bagi Alif sendiri, dan ini deja vu atas materi tersebut, apa dan bagaimana konsep Islam mengenai kesejahteraan? 

Negara sejahtera yaitu negara yang bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan masyarakatnya dari 5 unsur, yang terkandung dalam maqosid syari'ah, (harta, keluarga, agama, jiwa, akal dalam artian bebas berpendapat, berinovasi)

"Tanah Air Beta" membuka sesi penampilan Alif dalam Aksi 2022. Pilihan lagu nasional ini mampu menyentuh sisi nasionalistik pemirsa Aksi 2022. Mamah Dedeh, sebagai salah satu dewan juri, memberikan apresiasi tinggi atas pilihan metode ini.  Dalam pandangan Alif, bagaimana urgensi kesadaran anak muda dalam membangun dan mengembangkan nilai-nilai kebangsaan?  

Upaya membangun dan memajukan negeri saya kira tidak akan pernah habis dan selesai. Selalu ada PR, selalu ada hal yang mesti diperbarui, ditambah, diperbaiki. Yang jelas, kita tahu betul bahwa untuk memulai semua, kecintaan pada bangsa dan negara harus ada dalam diri. Nilai-nilai pancasilais juga harus tertanam agar semuanya berjalan dengan harmonis.

Oleh karena itu, pengembangan dan implementasi nilai kebangsaan urgen dilakukan demi kemaslahatan bersama. Tanpa nilai-nilai tersebut, negara kita bisa kehilangan arah.

Ustaz Subghi Al Bughuri memuji penampilan Alif sebagai pendakwah yang mampu membawakan tema serius dengan cara yang santai namun tetap bermakna dan tidak kehilangan esensi. Bagaimana cara Alif mengembangkan kemampuan seperti itu? 

Yang selalu saya tanamkan dalam pikiran adalah: saya berdakwah bukan lantas menempatkan diri begitu tinggi dibandingkan yang lain, melainkan lebih sebagai upaya untuk saling mengingatkan sesama muslim. Ketika prinsipnya saling mengingatkan, saya harus paham juga bahwa penyampaiannya harus sesuai, lembut, tetapi pesannya sampai. Oleh karena itu, saya kerap menyisipkan humor, lagu-lagu yang akrab di telinga masyarakat, pantun, dan seterusnya. Komposisi berbagai aspek tersebut mesti sesuai untuk menjaga ritme materi dan esensi. Hiburannya dapet, esensinya tidak lari-lari. Semoga bisa istikamah begitu.

Bagaimana harapan Alif bagi pengembangan kemampuan berdakwah generasi muda pada lembaga pendidikan Islam (madrasah dan pondok pesantren)?

Saya selalu berharap agar lembaga pendidikan Islam terus membuka dan mempersubur latihan dakwah. Kalau di pondok biasanya ada latihan rutin (minimal dengan khitobah bergilir), kalau di madrasah mungkin bisa dibuat ekstrakurikuler juga dengan opsi tertentu—katakanlah dipadukan dengan latihan public speaking secara umum.

Pemerintah juga harus terus mendukung latihan dakwah di lembaga pendidikan karena insyaAllah manfaat dan berkahnya luar biasa nanti.

Pertanyaan tambahan untuk Ibu Umi Kultsum dan Suami (orang tua Alif):
Bagaimana perasaan dan harapan Ibu dan Bapak atas capaian ananda dalam Aksi 2022?
 

Sebagai orang tua, kami tentu sangat bangga atas pencapaian Alif. Ikut AKSI merupakan salah satu impian Alif sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan berbagai kompetisi di kabupaten, kampus, dan provinsi salah satunya memang diniatkan untuk menempa kemampuan sebelum memberanikan diri maju ke panggung TV nasional.

Yang kemudian membuat kami bangga bukan hanya prestasi juara 3, melainkan juga antusiasme dukungan yang sangat mengharukan oleh masyarakat. Saya sangat bahagia melihat ratusan bahkan ribuan orang mendoakan yang terbaik bagi Mbak Alif setiap hari. Ketika saya diundang ke Jakarta dan bertemu teman-teman Alif di AKSI, saya juga tak bisa menahan luapan keharuan melihat putri saya begitu diterima di sana.

Alif bagi saya bukan hanya berhasil sebagai pendakwah, melainkan juga sebagai seorang manusia yang penuh cinta.