Akan Diselenggarakan Lomba Membaca Kitab Kuning

Jakarta, 12/6 (Pinmas) - Musabaqah Qiro`atil Kutub (MQK) atau lomba Membaca Kitab Kuning akan diselenggarakan di Pondok pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (14/6) dan rencananya dibuka Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni. "MQK ini bertujuan memotivasi kalangan santri untuk lebih mencintai kajian kitab berbahasa Arab yang merupakan ciri khas dari pesantren," kata Direktur Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pontren H.Amin Haedari kepada pers, Senin. Menurut Amin, sebanyak 401 santri dari 33 propinsi se-Indonesia akan mengikuti MQK yang akan berlangsung 14-16 Juni 2006.

Kegiatan ini merupakan MQK ke-2, yang sebelumnya dilaksanakan di Jawa Barat secara sederhana.MQK ke-2 dipersiapkan melalui seleksi tingkat regional, kata Amin, dan untuk MQK kali ini, Kanwil Depag Jatim selaku panitia Pelaksana sudah menyiapkan sistem penilaian secara IT (information technology), sehingga siapa pun yang menjadi juara tidak mungkin melalui rekayasa."Kami menyiapkan penilaian secara IT pada delapan majelis yang merupakan kategori lomba, sehingga setiap peserta selesai tampil akan langsung dapat melihat nilainya yang ada di layar.

Bahkan penonton juga dapat mengetahui dan dapat melakukan protes bila ada kekeliruan pada saat itu juga," katanya.Peserta MQK II-2006 terbagi dalam dua tingkatan, yakni "wustho" untuk peserta setingkat SMP/MTs dan "ulya" untuk peserta setingkat SMA/MA. Lomba terbagi dalam empat bidang yakni tafsir, hadits, fiqih , dan lughoh.Untuk tingkat wustho, kitab tafsir yang dilombakan adalah Jalalain, Bulughul Marom (hadits), Fathul Qorib (fiqih), dan Imriti (lughoh), sedangkan untuk tingkat ulya adalah Al-Maroghi (tafsir), Fathul Bari (hadits), Fathul Muin (fiqih), dan Alfiyah (lughoh)."Peserta lomba akan membacakan kitab kuning yang gundul itu dengan disertai terjemah atau makna, kemudian dewan juri akan melakukan tanya jawab secara langsung.

Mereka akan dinilai kelancaran dan kebenaran bacaan serta pemahaman makna, sedangkan untuk lughoh tidak membaca, melainkan hafalan dan maksud dari teks tersebut," ujarnya.MQK sendiri, ujarnya, dirancang untuk mengantisipasi menurunnya minat kajian kitab kuning atau kitab berbahasa Arab, akibat maraknya kitab kuning yang sifatnya instan dengan terjemahan berbahasa Indonesia.Pelaksanaan MQK ini juga guna mempererat silaturrahmi antar- pesantren yang kelahirannya selama ini memang bersifat jaringan kekeluargaan atau persaudaraan yang segaris keturunan.(Ant/Ba)