200 Tokoh Lintas Agama Di Sulses Kumpul Di Gubernuran

Makassar, 9/8 (Pinmas) - Sekitar 200 orang tokoh lintas agam di Sulawesi Selatan, berkumpul di kediaman Gubernur Sulsel di Makassar, Rabu, untuk suatu dialog dalam upaya mempererat hubungan antarummat beragama di daerah ini. Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, Sekdaprov Sulsel Andi Muallim dan Ketua MUI Sulsel H. Sanusi Baco, LC menjadi pembicara dalam dialog tersebut.      

Para peserta membicarakan secara terbuka namun penuh keakraban berbagai hal yang menjadi faktor penting dalam membina kerukunan ummat beragama di daerah ini, serta potensi-potensi yang dapat merusak kerukunan yang sudah terjalin baik selama ini.       Para tokoh sepakat bahwa dialog dan komunikasi yang intensif antara para pemimpin ummat akan menjadi faktor penting dalam memupuk dan mengembangkan keharmonisan antarummat dalam hidup bermasyarakat sehari-hari.    

Sekdaprov Sulsel Andi Muallim mengatakan, agama merupakan hak yang paling asasi dan sakral bagi setiap manusia karena kedudukannya sangat hakiki sehingga tidak ada kekuatan yang bisa mengurangi keinginan beragama tersebut.  Karena itu, konstitusi negara telah memberi jaminan kebebasan bagi setiap orang untuk memilih agama dan beribadah menurut keyakinan dan kepercayaannya. 

Jaminan kebebasan tersebut telah mewajibkan pemerintah melindungi setiap aktivitas umat beragama dalam melaksanakan ajaran agama dan beribadat sesuai kepercayaannya, termasuk membangun rumah ibadah sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, tidak menodai ajaran agama serta mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. Untuk mewujudkan kewajiban tersebut, pemerintah mengupayakan peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama, kehidupan beragama dan kerukunan intern antarumat beragama sebagai bagian penting dari perwujudan pemeliharaan kerukunan nasional.  Implementasi dari kebijakan ini hanya dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya apabila mendapat dukungan dari segenap komponen masyarakat khususnya para tokoh agama guna menciptakan kerukunan umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, hormat menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agama. 

Karena itu, pembinaan kerukunan intern dan antarumat beragama menjadi sangat penting dan strategis dalam menyikapi perkembangan dinamika sosial kemasyarakatan saat ini yang sangat `rapuh` terhadap berbagai pengaruh, baik internal berupa eforia reformasi maupun pengaruh eksternal era globalisasi diiringi derasnya arus informasi.  Mengenai konflik vertikal dan horizontal bernuansa politik dan agama maupun aksi-aksi teror serta provokasi yang dilakukan kelompok-kelompok kepentingan/radikal yang anti kemapanan, menurut Muallim, merupakan hal yang harus diantisipasi secara dini dengan membangun kerukunan hidup intern dan antar umat beragama.(Ant/Ims)


REKOMENDASI