Nasional

Menag: Ulama Itu Pengawal Akhlak Bangsa

Banjarmasin (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, para ulama harus menempatkan diri sebagai panutan umat dan pengawal akhlak bangsa, menjadi teladan dan soko guru dalam menjaga ukhuwah Islamiyah.

“Ulama harus menjadi pemersatu umat di atas kepentingan kelompok organisasi dan golongan,” kata Menag pada acara silaturahim dengan jajaran pejabat Kementerian Agama, paraulama dan tokoh masyarakat se-Kalimantan Selatan di Asrama Haji Banjarmasin, Rabu (26/11).

Hadir pada kesempatan itu, Gubernur Kalsel Rudy Ariffin, Ketua MUI Kalsel H. Ahmad Maki, Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam Prof. Dede Rosada, Rektor IAIN Antasari, Prof. Dr.Fauzi Aseri MA, Kepala Biro AUK IAIN Antasari Banjarmasin, Sofia Nur, Kanwil Kemenag Kalsel Muhammad Tamrin, Ketua Dewan Masjid Kalsel H. Gusti Rusdi Effendi, serta para ulama dan tokoh masyarakat.

Sebelumnya, Rabu pagi, Menteri Agama menghadiri wisuda Sarjana IAIN Antasari Banjarmasi ke-56, sekaligus peringatan setengah abad perguruan tinggi tersebut. IAIN Antasari berdiri atas dorongan mantan Menteri Agama KH Saefuddin Zuhri (alm), yang merupakan ayah dari menag Lukman Hakim Saifuddin sendiri.

“Seandainya para ulama sudah tidak lagi menjadi teladan dalam hal ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat, kemana umat akan mencari panutan?” tanya Menag kepada sekitar 3.000 undangan pada acara aula pertemuan Asrama Haji Banjarmasin.

Menag mengatakan, para ulama sebagai pemimpin informal di tengah masyarakat perlu mengoptimalkan peran strategisnya dalam membentengi akidah dan akhlak umat dari pengaruh budaya global. “Kita menyadari kedudukan ulama tak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk membina dan menjaga umat,” katanya mengingatkan.

Terkait dengan silaturahim tersebut, Menag mengatakan, acara tersebut sangat penting dalam rangka “trust building” dan memperkuat sinergi antara jajaran Kemenag dengan para alim ulama. Peran dan organisasi keagamaan merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan keberhasilan tugas kementerian tersebut dalam membina umat.

“Kementerian Agama tidak bisa bekerja sendirian dalam membangun dan memelihara kehidupan umat beragama yang rukun dan harmonis. Kementerian tersebut memiliki fungsi bimbingan, pelayanan, pemberdayaan, dan perlindungan umat beragama. Karena itu harus dipahami konstelasi hubungan kemasyarakatan dengan para pemangku kepentingan,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan lagi, komunikasi dan kerja sama yang baik dengan para ulama dan organisasi keagamaan sangat diperlukan untuk mendukung suksesnya misi dan program strategis Kementerian Agama, yang meliputi pengembangan pendidikan agama dan keagamaan, kerukunan umat beragama, penyelenggaraan ibadah haji dan bimbingan masyarakat beragama, serta tata kelola organisasi yang baik (good givermance).

Ia memandang keberadaan unit organisasi Kemeneterian Agama sampai tingkat kecamatan merupakan representasi hadirnya peran negara untuk mengatur, memfasilitasi dan memberi panduan bagi warga dalam menjalankan kehidupan beragama yang baik. “Hal ini tentu memerlukan cara pandang dan pendekatan secara profesional dalam menyikapi isu aktual keagamaan,” katanya. (ess/ant/mkd)

Tags:

Nasional Lainnya Lihat Semua

Berita Lainnya Lihat Semua