Selasa, 21 Maret 2017, 09:56

Menag Dianugerahi Gelar La Ode oleh Kesultanan Buton

Menag Lukman dan Ibu Trisna Willy terima gelar La Ode dan Wa Ode dari Kesultanan Buton. (foto: istimewa)

Buton (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima anugerah Gelar Kehormatan Adat dan Budaya La Ode dengan gelar Mia Ogena Yi Sara Agama. Anugerah ini diberikan oleh Kesultanan Buton di Baruga Keraton, Lingkungan Benteng Buton, Selasa (21/03).

Ode, dalam adat Buton berarti pujian dan penghargaan terhadap seseorang yang dimuliakan, berperilaku baik, dapat menjadi teladan dalam bermasyarakat, ucapannya dapat dipercaya dan berkata benar, serta berpenampilan yang bisa menjadi panutan. Sedang kata La, adalah panggilan untuk laki laki.

La Ode bisa diartikan sebagai laki-laki yang dimuliakan, dihormati dan dihargai oleh masyarakat karena kepiawaiannya, serta dapat digugu dan ditiru. Sedang Mia Ogena Yi Sara Agama diartikan sebagai pejabat tinggi dalam struktur Kesultanan Buton yang membidangi urusan keagamaan.

Penghargaan ini diberikan langsung oleh Sultan Buton Ke-40 H La Ode Muhammad Izat Manarfa. Sultan mengatakan, dengan diberikannya Gelar tersebut, Menag secara otomatis menjadi warga kehormatan dan sesepuh di Kesultanan Buton.

"Senantiasa ingatlah kampung halaman di Kesultanan Buton, dengarkan suara senandung lagu yang dikumandangkan masyarakat. Sesekali, menolehlah ke belakang untuk mendengar senandung harapan" terang Sultan.

Agar Menag mengenal adat dan budaya Kesultanan Buton, Sultan memberikan cendera hati berupa Kamus Bahasa Buton Setebal 1.025 halaman.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga dipakaikan Baju Kebesaran Kesultanan Buton. Dalam sambutannya, Menag mengatakan, terima kasih dan bersyukur atas gelar La Ode tersebut.

"Saya baru tau makna La Ode. Saya merasa, amat sangat kecil, tak pantas dan khawatir, belum mampu mengemban gelar kehormatan yang luar biasa ini," ujarnya.

"Amanah sebagai Menag, bagi saya adalah ujian, tak sekedar kehormatan. Saya diuji untuk memegang amanah ini hingga 2019 esok. Saya tidak tau, apakah saya mampu memegang amanah ini dengan baik, atau tidak," katanya lagi.

"Hari ini, Saya diuji dengan gelar yang sangat terhormat. Jika Menag terbatas waktu, maka gelar La Ode, tak terbatas waktu. Untuk itu, Saya mengharap doa dari semua sesepuh, agar mampu menghadapi dua ujian ini," harapnya.

Selain Menag, Ibu Trisna Willy Lukman Hakim juga mendapatkan gelar Wa Ode.

Sekilas Kesultanan Buton

Berdasarkan Sekapur Sirih Kesultanan Buton yang disusun La Ode Djabaru, dijelaskan Kesultanan Buton awalnya merupakan sebuah kerajaan yang berdiri pada Abad ke-13. Pada Tahun 1538 M, Kerajaan Buton berubah menjadi Kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis.

Pada masa Sultan Ke-4, Sultan Dayanu Ikhsanuddin menolak saat hendak dilantik. Sultan Dayanu menginginkan agar jabatan Sultan dipilih. Setelah dilakukan pemilihan, Sultan Dayanu juga yang terpilih. Pasa masa awal kemerdekaan, tahun 1950 1960, Kesultanan Buton yang dipimpin oleh La Ode Muhammad Falihi Qainuddin (Sultan Ke-38) atas lobi Presiden Sukarno menyatakan bergabung dengan NKRI.

Beberapa peninggalan Kesultanan Buton yang hingga kini masih bisa disaksikan, antara lain: Benteng Buton, dengan luas 22,8 Ha, berbentuk lingkaran sepanjang 2.750 M. Mempunyai 12 pintu gerbang, benteng ini dikenal sebagai yang terluas di dunia.

Peninggalan lainnya berupa istana kerajaan dan mata uang (Kampua). Jabatan Sultan di Kesultanan Buton juga dipilih dan itu masih berjalan hingga kini.

Selain itu, ada Masjid Agung Keraton yang memiliki 12 pintu masuk dan 1 pintu tersembunyi. (G-penk/mkd/mkd)

Berita Lainnya
Selasa, 28 Maret 2017, 10:16

Program Beasiswa Pendidikan Strategis Promosikan Islam Nusantara

Selasa, 28 Maret 2017, 08:12

Upaya Kemenag Tingkatkan Kualitas Kehidupan Beragama dan Sukseskan Pilkada Serentak

Selasa, 28 Maret 2017, 06:23

Dirjen Pendidikan Islam: Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Konteks Eropa

Selasa, 28 Maret 2017, 05:51

Kemenko PMK Kunjungi Kantor Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi Kemenag

Senin, 27 Maret 2017, 20:38

Dialektika Islam dan Budaya, Menag: Dunia Islam Bisa Belajar dari Indonesia