Puasa dalam Perspektif Agama Khonghucu

Bagaimana puasa dalam Agama Khonghucu? Agama Khonghucu juga mengenal adanya ibadah berpuasa (Chai 齋 Zhai). Ini sebagaimana tertulis dalam Kitab Kesusilaan (Li-Ji) XXII yang berbunyi: “Ketika tiba waktunya menaikkan sembahyang, seorang Susilawan akan bersuci diri dengan cara berpuasa lahir batin.

Dalam Kitab Sishu Tengah Sempurna Bab XV:3 juga dijelaskan: ”Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepadaNya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan di atas dan di kanan-kiri kita. (SS.VII:13)

Makna puasa dalam agama Khonghucu ada dua. Pertama, sebagai sarana mensucikan diri, menyiapkan batin yang bersih dalam persiapan melaksanakan sembahyang besar kepada Tuhan YME. Kedua, sebagai pelatihan mengendalikan diri agar selalu dapat menjaga perilaku, tutur kata, dan perbuatan yang tidak melanggar kesusilaan, sehingga jiwa kita sepenuhnya dapat kembali pada Cinta Kasih.

“Dengan berpuasa, membersihkan hati, mengenakan pakaian lengkap dan tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Kesusilaan, inilah salah satu cara yang  dapat dilakukan dalam upaya  membina diri” (Tengah Sempurna XIX.14)

Selain sebagai sarana untuk membina diri, puasa juga merupakan sarana pertobatan pada Tian Yang Maha Esa, atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. Hal ini dapat kita simpulkan dari ayat berikut : “Biarpun seorang yang buruk/jahat, bila mau membersihkan hati, berpuasa dan mandi, dia boleh bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa”. (Mengzi IVB: 25,2)

Nabi Khongcu bersabda, "Bila setiap orang setiap hari dapat kembali kepada Kesusilaan, maka dunia akan kembali kepada Cinta Kasih”.

Puasa dari bentuknya, dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu: puasa secara jasmani (齋 Zhai) dan puasa secara rohani (戒 Jie). 

Puasa secara jasmani, ada beberapa bentuk. Garis besarnya adalah berpantang makan, tidak terbatas hanya tidak makan makanan yang bernyawa seperti daging (vegetarian) secara berkala pada hari sembahyang tertentu, tapi bisa juga berpantang makan yang lain, seperti misalnya berpantang makan nasi, atau berpantang makanan yang mengandung rasa, atau berpantang makan apapun pada jam-jam yang telah ditentukan pada hari sebelum melakukan sembahyang besar. Pada saat melaksanakan puasa secara jasmani, tidak boleh meninggalkan puasa rohaninya.

Sedangkan puasa secara rohani itu, wajib dilakukan secara terus-menerus setiap saat oleh umat, salah satu wujudnya adalah memegang teguh pada sikap yang membatasi diri terhadap 4 pantangan, yaitu “tidak melihat yang tidak susila, tidak mendengar yang tidak susila, tidak membicarakan yang tidak susila, dan tidak melakukan yang tidak susila.”

Prinsip utama dalam menjalankan puasa rohani, adalah membatasi diri dengan kesusilaan, sehingga segala hal baik dapat berkembang dalam diri.

Hal penting yang harus diingat dalam berpuasa adalah pertimbangan masak dalam memutuskan untuk menjalankan laku puasa ini.

Jangan sampai puasa menjadi kehilangan makna hanya karena ketidakseriusan umat dalam menjalankannya. Hal ini sebagaimana diteladankan oleh Nabi Kongzi dalam Lunyu VII : 13, “Nabi berhati-hati di dalam hal berpuasa, peperangan, dan sakit.”

Selanjutnya dijelaskan dalam Liji, bila tidak siap atau mampu melakukan dengan kesungguhan dan kesiapan lahir batin, maka sebaiknya tidak dilakukan. Ayat ini bukanlah menjadi alasan bagi umat untuk tidak melaksanakan puasa, melainkan justru penegasan bahwa hendaklah puasa dilaksanakan dengan sungguh sungguh, bukan untuk percobaan, apalagi mainan. 

Akhirnya saya mewakili Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengucapkan selamat  menjalankan ibadah puasa bagi seluruh umat muslim di manapun berada. Puasa adalah kegiatan multi makna. Ia bukan sekedar (pengejawantahan) perintah Tuhan namun juga merupakan sarana pelatihan disiplin diri.

Puasa tidak sekedar menahan lapar dahaga, namun juga berguna untuk latihan menahan diri, mengendalikan emosi, dan introspeksi. Puasa bukan juga sekedar baik untuk kesehatan, namun juga baik untuk melatih kepekaan. Pendek kata dari kegiatan atau ibadah yang dinamai puasa ini, kita dapat memetik hikmah dan pelajaran yang tinggi dan multi dimensi.

 

Ws. Liem Liliany Lontoh, S.E., M.Ag. (Rohaniwan Khonghucu)