Memaknai Saraswati

Om swastyastu, Om Awighnamastu namo siddham. Saudaraku dalam dharma. Hari ke-210 dalam kalender Jawa Bali adalah hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung. Ini merupakan hari terakhir dari lingkaran kalender sasih wuku yang disebut juga hari suci Saraswati. Puja Saraswati kiranya mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu Indonesia, sehingga masuk ke dalam sistem kalendernya, dan ditempatkan pada hari terakhir, juga wuku terakhir. 

Hari ini diperingati sebagai momen untuk memberikan penghormatan istimewa kepada Dewi Saraswati. Yaitu, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi, sebagai dewinya Ilmu pengetahuan. Hal yang lebih menarik perhatian lagi, bagaimana proses masuknya "Puja Saraswati:" ke dalam sistem kalender Wuku (kalender Jawa-Bali).

Saudaraku dalam dharma. Saraswati merupakan hari istimewa bagi umat Hindu Indonesia. Sebab, diyakini bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai dewinya ilmu pengetahuan saat itu bermurah hati untuk memberikan anugerah berupa pengetahuan-pengetahuan suci yang dapat digunakan untuk mempermudah menjalankan roda kehidupan. Anugerah itu diberikan kepada mereka yang melakukan brata dan pemujaan khusus ke hadapan Dewi Saraswati. 

Seiring dengan keyakinannya tersebut, umat Hindu dari subuh meninggalkan kegiatan rutinnya, terfokus melaksanakan puja, bahkan brata Saraswati, sampai keesokan harinya merayakan hari suci Banyu Pinawruh, yang ditandai dengan menyucikan diri, mandi ke sungai atau laut, menghaturkan nasi pradnyan, dilanjutkan dengan ngelebar-menikmati prasadam berupa nasi pradnya. Puja Saraswati juga ditandai oleh kegiatan membuat "candi pustaka" (mengumpulkan lontar- lontar dan buku-buku terpilih) yang dijadikan sthana Hyang Saraswati, melaksanakan brata Saraswati dan puja Saraswati.

Saudaraku dalam dharma. Saraswati (dalam bahasa Sanskerta bermakna "sesuatu yang mengalir", seperti percakapan, sesuluh/petunjuk hidup). Kata Saraswati secara etimologi berasal dari kata 'saras' dan 'wati'. Kata "saras" yang juga berasal dari urat kata sansekerta "srs" memiliki arti “mata air”, terus-menerus atau sesuatu yang terus-menerus mengalir. Sedangkan kata "wati" berarti yang memiliki. "Saraswati" adalah sesuatu yang memiliki atau mempunyai sifat mengalirkan secara terus-menerus, bagaikan air kehidupan dan ilmu pengetahuan.

Dalam Pustaka Suci Weda, Dewi Saraswati dipuja sebagai Dewi Sungai, dengan permohonan untuk mendapatkan kesehatan dan vitalitas hidup. Posisi Dewi Saraswati sebagai Wach atau "Dewa Kata-kata" baru ditemui dalam kitab-kitab Brahmana, Ramayana, dan Mahabharata. Belakangan, Saraswati dikenal sebagai "saktinya" dewa Brahma, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai Sang Pencipta. Sedangkan kata "Banyu Pinaruh" berasal dari kata "Banyu Pangawruh" yang juga berarti "air suci ilmu pengetahuan" (yang berfungsi untuk menyucikan dan memberi vitalitas hidup). 

Jika direnungkan, tentunya hal ini menjadi sangat menarik, apakah pengetahuan itu hanya diturunkan hari itu saja, terus bagaimana dengan proses pembelajaran yang dilakukan setiap hari? 

Sabtu merupakan hari terakhir dalam Saptawara. Demikian pula wuku watugunung, merupakan wuku terakhir dari 30 wuku yang ada. Pada hari terakhir, wuku terakhir, dari perputaran sasih wuku, umat Hindu diingatkan untuk hening sejenak, mawas diri, melakukan brata,  seraya memuja-muji, Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar dianugerahi ilmu pengetahuan sebagai landasan atau dasar untuk memulai kehidupan yang lebih indah, lebih tertata, lebih disiplin pada tahun baru berikutnya, sehingga berhasil mencapai tujuan hidup yang sejati.

Saraswati sebagai simbol penyadaran dan pencerahan. Sebagai Waciswari, Saraswati disimbolkan berstana dalam aksara suci. Oleh karenanya, kitab-kitab suci dijadikan candi (candi pustaka, candi bahasa, candi sastra, atau candi aksara) tempat suci bagi Saraswati, tempat beliau disthanakan (pinratistha, supratistha). 

Pada perayaan Hari Suci Saraswati, umat Hindu mempersembahkan sesaji khusus yang disebut banten Saraswati. Banten Saraswati ini berisi kue/jajan khusus, yaitu kue Saraswati, yang titik fokusnya adalah aksara suci Ongkara (Om). Om atau pranawa mantra yang merupakan gambaran planet-planet di alam semesta ini (bumi, bulan, matahari, bintang-bintang), adalah juga esensi setiap kegiatan keagamaan Hindu yang terlihat berlapis mulai dari arcana, mudra, mantra, kuta-mantra dan pranawa mantra. Pranawa-mantra yang maha-suci itu menjadi sarinya. Dengan demikian, sebuah aksara suci Om dapat memberi kesadaran pada manusia tentang hakikat alam semesta ini, dan juga hakikat dirinya dan wawasan kemanusiaannya tentang suka dan duka, tentang kesengsaraan dan penderitaan dan seterusnya.

Aksara suci Om, merupakan "badan" Dewi Saraswati. Sebagaimana kita ketahui, aksara suci Om adalah pranawa mantra (esensi semua mantra), juga disebut sebagai nada Brahma. Om (terbangun oleh ANG, UNG, MANG) adalah "lagu alam semesta" tetapi juga "hukum alam semesta". ANG, UNG, MANG, utpati, stithi, pralina (lahir hidup mati) adalah hukum alam semesta, yang terjadi setiap saat, yang tak terhindarkan oleh manusia. 

Saudaraku dalam dharma. Hindu mempunyai managemen waktu yang wajib untuk dicermati dan dipatuhi, karena managemen itu berpayung pada Bhuana Agung. Ada hari di mana kurang tepat untuk menanam, berlayar, dan menikah. Semua ada logikanya karena ajaran itu hadir dari kesadaran manusia kuno yang sangat taat akan ajaran kitab suci Veda. Sehingga, paham terhadap alam semesta, serta kesadaran bahwa tidak ada mahluk di dunia yang terlepas dari hukum ruang dan waktu. 

Om shanti shanti shanti Om

Anak Agung Oka Puspa (Rohaniwan Hindu)
 


TERKAIT

Harta sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Iman Saat Tidak Bisa Melihat Apa-Apa

Bermimpi dalam Hidup

Menuntut Diri Sendiri

Dharma Sevanam