Kembangkan Bahan Ajar RA, Kemenag: Rangkum Alam Nyata dan Maya

Bogor (Kemenag) --- Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Kemenag terus mengembangkan bahan ajar Raudlatul Athfal (RA). Pengembangan dilakukan dalam rangka merespon perkembangan metode pembelajaran dan dinamika pembelajaran selama pandemi. 

Direktur KSKK Madrasah Moh. Ishom menegaskan, pengembangan bahan ajar RA harus dipadukan dengan situasi zaman, memuat seluruh pengalaman, serta membuka ruang inovasi dan kreativitas. Menurutnya, best practice dari masing-masing pengembang sangat penting dalam merumuskan bahan ajar terbaik dalam menyiapkan generasi emas di masa mendatang. 

“Harus bisa juga dirumuskan bahan ajar yang merangkum dua alam, yaitu alam nyata dan alam maya. Ini perlu digabungkan karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi berakhir,” tutur Ishom saat membuka Pembekalan Pengembangan Bahan Ajar RA di Bogor, Selasa (12/10/2021).

Ishom juga berharap, bahan ajar yang dikembangkan memancing guru untuk melakukan inovasi sehingga konten pembelajaran menjadi lebih menarik.

Kepala Sub-Direktorat Kurikulum dan Evaluasi, Ahmad Hidayatulloh menyatakan, kegiatan pembekalan pengembangan bahan ajar ini merupakan rangkaian dari aktivitas revolusi pembelajaran pada Kementerian Agama. “Kegiatan pengembangan bahan ajar ini didasarkan pada Keputusan Menteri Agama nomor 792 tahun 2018 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum yang memuat kekhasan pembelajaran, di antaranya pendidikan agama Islam sebagai basis dari kegiatan bermain dan belajar pada RA, memperhatikan aspek perkembangan anak dan penguatan karakter akhlak karimah,” jelasnya.

Ahmad berpesan, regulasi kurikulum pembelajaran anak harus hadir dalam bentuk pembelajaran yang tepat dalam rangka memastikan pembelajaran RA sesuai dengan basis karakter atau ciri khas ke pendidikan agama Islam. 

Subkoordinator Kurikulum Seksi RA, Kartini mengharapakan kegiatan pembekalan bahan ajar dapat memberikan seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan  menarik. “Tujuannya, mencapai kompetensi dan subkompetensi dengan segala kompleksitasnya,” terangnya.

Kartini menegaskan, kehadiran bahan ajar RA selain membantu siswa dalam pembelajaran juga sangat membantu guru. “Dengan adanya bahan ajar RA guru lebih leluasa mengembangkan materi pelajaran,” tegasnya.

Kartini berharap, bahan ajar berisi materi yang memadai, bervariasi, mendalam, mudah dibaca, serta sesuai minat dan kebutuhan siswa dan tersusun secara sistematis dan bertahap. Serta berisi alat evaluasi yang memungkinkan siswa mampu mengetahui kompetensi yang telah dicapainya. “Untuk itu materi haruslah disajikan dengan metode dan sarana yang mampu menstimulasi siswa untuk tertarik membaca,” pungkasnya. (Yuyun)