Inovasi Literasi PAI di Tengah Pandemi

Di tengah pandemi Covid-19, ranah Pendidikan Agama Islam di Sekolah juga mengalami dampak yang serius. Dampak tersebut di antaranya adalah keterbatasan akses dan daya jangkau layanan digital yang dibutuhkan untuk proses pembelajaran. Kondisi demikian berpengaruh dan menyebabkan risiko learning loss jadi lebih terbuka. Learning loss adalah kondisi di mana siswa kehilangan substansi, makna, dan tujuan pembelajaran yang seharusnya mereka tempuh. 

Kendala dan tantangan interaksi dan komunikasi yang serba berjarak dalam kondisi pandemik juga berpengaruh terhadap kemampuan literasi. Tanpa ditunjang interaksi dan dukungan fisik secara langsung, kemampuan literasi siswa dan guru menemui masalah dalam berbagai kondisi dan aktivitas. Kunjungan ke perpustakaan, misalnya, menjadi sebuah aktivitas yang hampir dua tahun ini sulit dilakukan, untuk tidak mengatakan tidak mungkin dijalankan. Padahal, perpustakaan adalah sarana terpenting untuk menunjang minat dan kemampuan literasi guru dan siswa. Inilah coontoh kecil yang menunjukkan betapa kondisi pendemi Covid-19 telah menjadi tantangan di bidang literasi.  

Namun, kita bisa menimbang inisiatif kreatif dari Bidang PAI Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur dalam merespons tantangan tersebut. Inisiatif tersebut adalah PBL Ceris (Pembelajaran Berbasis Literasi Cerita Islam), sebuah inisiasi pengembangan literasi dalam konteks kegiatan menulis cerita bernafaskan Islam. Ditemui pada Workshop Program Pengembangan Kurikulum PAI SMP (24/8/2021) yang diselenggarakan Subdit PAI pada SMP/SMPLB Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendidikan Islam, Kepala Bidang PAI Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur H. Santoso, M.Pd. mengungkap seputar PBL Ceris tersebut. 

“Program ini bermula dari keinginan kami untuk menumbuhkan minat dan kemampuan literasi di kalangan guru dan siswa PAI Jawa Timur. Secara statistik, kita tahu siswa dan masyarakat Indonesia secara umum memiliki skor yang belum memadai dibanding capaian siswa dan warga dari negara lain. Hal ini tentu saja perlu menjadi keprihatinan kita bersama dan memacu kami untuk berbuat sesuatu yang relevan,” tutur Santoso. 

Apa yang disampaikan Kepala Bidang PAI Kanwil Kemenag Propinsi Jawa Timur tersebut sejalan atau berdasar temuan yang dirilis Program for International Student Assessment (PISA) pada awal Desember 2019. Hasil PISA tersebut menunjukkan kemampuan siswa Indonesia dalam membaca mendapatkan skor rata-rata 371, sementara rerata keseluruhan adalah 487. Skor rata-rata matematika siswa Indonesia adalah 379 (rata-rata keseluruhan 487) dan sains 389 (rata-rata keseluruhan 489). Dalam konteks kemampuan membaca, PISA mencatat rata-rata anak Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah atau peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371 (rata-rata keseluruhan 377%).

Sejalan dengan temuan PISA, Lebih jauh, terkait kebiasaan membaca masyarakat Indonesia, UNESCO (2012) menyatakan bahwa hanya satu dari 1.000 orang masyarakat Indonesia yang membaca! Membaca dan menulis adalah dua hal yang sangat terkait. Pantas, kerisauan mengenai kemampuan membaca dan menulis patut menjadi keprihatinan bersama. Oleh karenanya, di tengah kondisi yang memprihatinkan tersebut, PBL Ceris terasa menjadi oase. 

Praktik baik yang diinisiasi Bidang PAI Kanwil Kemenag Jawa Timur menjadi wahana yang menampung minat literasi. Gayung bersambut, minat para siswa dan guru PAI tingkat SMP dan SMA cukup tinggi dalam mengikuti PBL Ceris, meskipun pelaksanaannya dilakukan dalam format virtual/daring. Minat yang tinggi ini membuat pelaksanaan workshop dilakukan dalam beberapa angkatan.   

Salah satu pesan penting yang mengiringi pelaksanaan PBL Ceris adalah mencintai dan menyenangi budaya literasi. “Dengan menumbuhkan rasa senang akan menulis, diharapkan tumbuh inisiatif positif lainnya terkait budaya literasi,” harap Santoso. Sebagai salah satu dampak dari rasa menyenangi literasi, PBL Ceris telah berhasil menerbitkan buku cerita Islam yang telah ber-ISBN. “Kita telah mendorong dan memfasilitasi terbitnya buku Ceris, berdasar aktivitas dan komunitas PBL Ceris, sebanyak 221 judul buku ber-ISBN,” papar Santoso. Dengan capaian ini, berarti PBL Ceris telah menghasilkan rata-rata 18 buku setiap bulannya semenjak program ini diluncurkan. 

Di tengah segala sulit dan kondisi serba terbatas karena pandemi Covid-19, PBL Ceris dengan segala capaiannya adalah sebuah afirmasi bahwa tidak selalu keterbatasan dengan beragam bentuknya menjadi penghalang untuk bekerja dan berkarya positif, bahkan mampu menjadi sebuah inovasi, tanpa harus menjadikan kendala pembiayaan sebagai momok utama.     

Tidak Memakai Dana APBN
Dampak Pandemi Covid-19 juga memengaruhi kondisi penganggaran dan keuangan negara. Untuk keperluan merespons dampak pandemi, pemerintah mengalokasikan dana yang sangat besar. Dana tersebut dipergunakan untuk menghadapi dampak dan risiko sosial serta problem biaya kesehatan masyarakat. Munculnya wabah yang telah memakan biaya materi dan immateri yang demikian besar memaksa pemerintah untuk melakukan refocusing anggaran di berbagai Kementerian/Lembaga. Langkah ini juga dialami anggaran yang menggawangi program Pendidikan Islam. 

Akibatnya, berbagai kegiatan dan program terkait pengembangan Pendidikan Islam menjadi terkendala dalam pelaksanaannya. Banyak rencana pengembangan dan pembangunan Pendidikan Islam dijadual ulang, bahkan dihilangkan. Di tengah kondisi demikian, PBL Ceris justru hadir dan menjadi wahana positif dalam membangun minat dan kemampuan literasi warga PAI Jawa Timur. 

Santoso menilai dan mengukur diri dengan kondisi sulit tersebut. Dia menjelaskan, “kami sadar, kami tidak memiliki dukungan dana yang memungkinkan untuk pelaksanaan PBL Ceris. Namun pembangunan karakter siswamelalui kegiatan literasi tidak bisa menunggu tersedianya dana terlebih dahulu. Oleh karena itu, kami mencoba untuk bekerja sama dengan berbagai pihak terkait dalam upaya pelaksanaan ide positif ini.” Dalam semangat demikian, Bidang PAI kemudian bekerja sama dengan pihak swasta dan Dinas Pendidikan setempat tanpa kewajiban yang membebani peserta, misalnya dengan keharusan membeli buku dari penerbit tertentu.

Workshop dan Pendampingan
Dalam kondisi pandemi Covid-19, komunikasi dan sosialisasi mengenai PBL Ceris mengalami kendala serius. Sangat kecil kemungkinan untuk pertemuan langsung dan koordinasi teknis yang dijalankan secara face to face. Namun, pengelolaan PBL Ceris memaksimalkan sarana pertemuan virtual sebagai solusi mengatasi masalah tersebut.  

Menariknya, animo yang datang dari para siswa dan guru terbilang sangat besar. “Dibawah koordinasi Bidang PAI Kanwil Jawa Timur kami melakukan workshop online dan seminar untuk ekspose karya penulisan PBL Ceris. Kami melakukan kegiatan tersebut 2 minggu sekali, dan sejauh ini sudah diikuti 5000 peserta siswa dan guru semenjak Agustus 2020,” terangnya. 

Workshop yang dilakukan dalam rangka PBL Ceris diikuti pendampingan teknis atau semacam coaching clinic kepada peserta yang ingin melanjutkan kepenulisan untuk mengikuti lomba menulis atau kegiatan terkait lainnya.                

Gaung PBL Ceris telah menarik perhatian berbagai kalangan dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri, telah banyak kalangan dari sekolah dan madrasah serta lembaga pemerintah terkait yang telah melakukan studi banding atas capain PBL Ceris. “Bukan hanya dalam negeri, beberapa pihak dari luar negeri telah menghubung kami terkait PBL Ceris dan karya yang dihasilkannya. Mereka tertarik untuk menerjemahkan hasil tulisan anak-anak kita,” terang Santoso. 

Dirinya menjelaskan bahwa beberapa pihak dari Amerika, Maroko, dan Finlandia telah dan tengah menjajaki pola kerja sama karya literasi PBL Ceris dalam bentuk penerjemahan dan kemungkinan variasi kegiatan lain yang diperlukan. 

Dengan perkembangan seperti itu, Santoso meyakini bahwa pada 2024 PBL Ceris atau kegiatan literasi yang digagas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur c.q Bidang PAI akan menghasilkan ribuan penulis yang akan menyemarakkan program literasi bukan hanya pada level nasional, tapi juga internasional.       
Saiful Maarif, Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag