Rabu, 22 Juni 2011 –
Pelihara Kesucian Alquran

Mataram (Pinmas)—Usaha pemeliharaan kesucian dan kemurnian Alquran merupa kan kewajiban seluruh umat Islam di seluruh dunia, baik secara individu maupun kolektif. Demikian disampaikan Menteri Agama (Menag) RI Suryadharma Ali dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Diklat Kementerian Agama Prof Dr Abdul Djamil, pada Pembukaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Alquran di Mataram, Selasa (21/6).

Menag menjelaskan, tugas berat pemeliharaan Alquran sesungguhnya ada di pundak ulama Alquran. Namun demikian, setiap individu Muslim juga berkewajiban memeliharanya, termasuk lembaga yang memiliki kompetensi Alquran.

“Khususnya lembaga seperti Kemenag dalam hal ini Laj nah Pentashihan Mu shaf Al-Quran yang di dalamnya ber khidmat dan memiliki kemampuan dalam bidang tahfidz, rasm, tanda baca, terjemah, tafsir, maupun ilmu Alquran lainnya,” ujar Menag.

Menag menjelaskan, di Indonesia lembaga yang diberi wewenang menangani kemurnian Alquran adalah Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, Balitbang dan Diklat Kemenag RI. Lembaga ini dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Agama No 3/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran. Menag menyebutkan, selama 50 tahun lebih sejak 1957 lembaga ini telah ada, tetapi belum menjadi satuan kerja tersendiri, meskipun sudah melakukan tugas-tugas penting dalam pemeliharaan Al quran.

Karena itu, Menag berharap, forum Mukernas Ulama Alquran ini bisa mengembangkan kemampuan umat pada keikutsertaannya dalam memelihara Alquran. “Saya sangat mendukung kegiatan ini, karena tujuannya adalah memelihara kemurnian Alquran dan meningkatkan pemahaman umat pada kitab sucinya.”

Apalagi, jelasnya, persoalan agama bukan hanya otentisitas atau kemurnian teks-teks keagamaan semata, tetapi juga pada pemahaman yang baik dan benar. Sebab, Alquran yang merupakan wahyu Allah dan di sebut sebagai Hamilun lil awjuh mengandung kemungkinan ragam interpretasi yang dimungkinkan kebenarannya selama berpegang pada prinsip-prinsip kebahasaan dan syariat Islam.

Gubernur NTB Tuan Guru Zainul Majdi menyambut baik acara ini. Zainul berharap, forum ini akan melahirkan sejumlah karya yang bisa dijadikan landasan dan pedoman hidup bagi umat. Pemahaman umat yang minim pada aga ma karena kurangnya na sihat dan tausiyah dari ula ma juga, terangnya

Panitia penyelenggara Mukernas Ulama Alquran Mukhlis Hanafi menjelaskan, acara yang berlangsung dari Selasa (21/6) hingga Kamis (23/6) ini diikuti sebanyak 110 ulama Alquran yang berasal dari 27 provinsi di Indonesia. Mereka ada juga yang berasal dari kalangan akademisi, peneliti, pakar sains, hingga kalangan perguruan tinggi, seperti LIPI, Lapan, dan Bosscha.(rep)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.065981 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 9122570
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.