Kamis, 15 November 2012, 21:56 –
Irjen Kemenag M Jasin Janji Tak Akan Tempati Gedung Baru

Jakarta (Pinmas)—Inspektur Jenderal Kementerian Agama Dr Muhammad Jasin berjanji tidak akan menempati gedung baru yang kini sudah berdiri lima lantai di depan gedung Inspektorat Jenderal Kementerian Agama yang lama.

“Saya cukup menempati ruangan yang ada di gedung lama yang pernah ditempati oleh Irjen Lama Pak Munzir Suparta. Biarlah gedung baru dan fasilitas baru itu ditempati pejabat Itjen seperti inspektur. Irjennya harus legowo menempati yang sederhana,” ucap M Jasin di kantornya di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (14/11).

Menurut M Jasin, dia diberi amanah menjadi Irjen Kemenag untuk membersihkan, sekaligus mengangkat citra Kementerian Agama yang selama ini dinilai sebagian orang kementerian terkorup. “Di sini saya harus bekerja sesuai aturan yang ada. Kamilah yang harus mencontoh kepada bawahan atau siapa pun harus bekerja professional, bersih, adil dan transparan.”

Klarifikasi

Di tempat yang sama M Jasin mengklarifikasi sinyalemen kecurigaan penyalahgunaan pengadaan meubelair dan hidran yang dilansir Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).

“Bukan berperang antar lembaga. Saya disini amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan aturan. Jika ditemukan penyimpangan, kami siap dipanggil KPK,” kata M Jasin kepada wartawan.

Pernyataan keras mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ini menanggapi pemberitaan terkait pengadaan barang mebel dan hidran air di gedung baru Inspektorat Jenderal Kemenag.

Dari keterangan Koordinator Investigasi dan Advokasi Kordinator investigasi dan Advokasi FITRA Uchok Sky Khadafi, disinyalir ada dua pengadaan bermasalah yang diikuti oleh 27 perusahaan medio tahun 2012. Pada proyek hidran diperkirakan mencapai Rp 871.517.130.Muncul sebagai pemenang lelang adalah PT Dewi Sartika Djaya yang beralamat di Jalan Raya Citayam, Gang Kembang 65, RT III/III, Ratu Jaya, Pancoran Mas, Depok. Perusahaan ini, menurut Ucok, menang dengan mengajukan nilai penawaran sebesar Rp 829.426.730. Dari sisi besaran, dia menilai pengadaan hidran untuk gedung baru ini janggal karena PT Dewi Sartika Djaya menang dengan harga yang paling penawaran tinggi dan mahal.

“Padahal ada penawaran yang lebih rendah dan murah yaitu CV Anima Safetindo dengan nilai penawaran sebesar Rp 786.920.000,” tegas Ucok.

Pengadaan kedua adalah barang meubel yang diikuti oleh 100 perusahaan, dan pemenang lelang adalah CV. Yulia Multi Utama yang berkantor Jalan Ciputat Raya No. 47 C, RT 013/001, Kebayoran Lama dengan nilai penawaran sebesar Rp 1.792.016.600.

Alasan yang sama dikemukakan Ucok. Lantaran perusahaan lain memberikan penawaran lebih rendah, yakni PT Layang Kintaka sebesar Rp 1.474.178.200 justru tidak dipilih pihak Itjen Kemenag.

Mencermati komentar Ucok, M Jasin membenarkan adanya pengadaan meubel dengan nilai pagu anggaran Rp 1,9 miliar. Pengadaan itu dilakukan saat awal 2012 oleh Irjen Kemenag sebelumnya Mundzir Suparta dan ketua pengadaannya Ali Zakiyudin. Kini, meubel yang terdiri dari meja, kursi, hingga almari kerja ini mencapai 700 unit telah ditempatkan di dalam gedung. Fungsinya untuk mengisi lima lantai berkapasitas 500 orang itu.

Agar para wartawan yakin, Jasin mengajak berkeliling melihat barang-barang tadi untuk memastikan jika prosesnya transparan dan terbuka. Apalagi, sebut Jasin, tender pengadaan itu dilakukan secara elektronik alias e-procurement. Sehingga minim interaksi dengan pihak luar. Proses tender pun bisa diakses publik setiap saat.

Sebenarnya beberapa tinjauan teknis pelelangan disebut Jasin sebagai faktor utama kegagalan perusahaan lainnya meraih tender. Begitu pula mutu dan spesifikasi barang yang tidak memenuhi kebutuhan. Seperti CV Anima yang tidak mengupload dokumen secara lengkap dan bersyarat seperti rincian harga dan teknis. Sedangkan PT Layang Kintaka tidak memiliki surat dukungan bank minimal 10 persen, tidak ada pakta integritas, dan pernyataan minat.

Meski begitu, kata Jasin, dirinya sangat terbuka kalau ada peserta tender yang komplain. Beberapa minggu setelah dinyatakan pemenangnya, pihak Itjen mengundang semua pihak, termasuk perusahaan yang gagal tender. Alhasil, tidak ada sanggahan terlontar dari seluruh pihak yang hadir.

“Kalau di situ ada penyimpangan, kami siap dituntut secara hukum. Bila ada, saya akan terdepan membersihkannya,” tegasnya. (dik)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.022772 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.64
Jumlah pengunjung: 13414780
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2014. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.