Imam Suprayogo: Al Quran Dicintai, Tapi Belum Menjadi Pembeda yang Hak dan Bathil

Selasa, 7 Agustus 2012 –

Foto

Jakarta(Pinmas)—Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperingati malam turunya Al-Quran (Nuzulul Quran) tingkat nasional 1433 Hijriyah/2012 di Istana Merdeka, Selasa (7/8) malam.

Presiden tiba di tempat acara didampingi Wakil Presiden Boediono bersama istrinya, Herawati Boediono. Hadir pula sejumlah menteri Kabinet Indonesia bersatu dan Kepala perwakilan negara-negara sahabat di Indonesia.

Dalam acara tersebut, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Imam Suprayogo memberikan ceramah dengan tema Al-Quran membangun peradaban.

Menurut Imam, Alquran telah dicintai masyarakat Indonesia. Setiap hari dapat diperdengarkan bacaan Al-Quran, lebih-lebih di bulan Ramadhan, taman pendidikan Al-Quran tumbuh subur, mushaf Al-Quran mudah ditemui.

Namun demikian, kecintaan terhadap Al-Quran tersebut belum menjadikan wahyu ilahi tersebut sebagai pegangan dalam menjalankan hidup.

“Alquran telah dicintai tapi belum dijadikan pembeda antara yang hak dan yang bathil, belum menjadi penjelas, belum menjadi penunjuk,” katanya.

Menurut dia, keberislaman seringkali jatuh hanya sebagai kegiatan ritual, yang kemudian memunculkan pembedaan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan.

Agama Islam yang kemudian hanya diidentikan kegiatan ritual semata, dan perbedaan ritual tersebut seringkali kemudian menjadikan gesekan dan konflik. Sementara ilmu pengetahun menjadi tertinggal jauh dari umat lainnya.

Menurut Imam, meski umat Islam di seluruh dunia mencapai 1,7 miliar atau 23 persen dari penduduk dunia, namun saat ini masih menjadi umat yang tertinggal dibandingkan umat lainnya.

Untuk itu, menurut dia, umat Islam perlu kembali kepada Al-Quran yang utuh, tidak hanya ritual keagamaan namun juga ilmu pengetahuan seperti yang telah diamanatkan dalam ayat-ayat suci.

“Manakala Al-Quran dipahami secara mendalam, maka umat Islam akan menjadi unggul dan menjadi posisi terdepan. Hal itu pernah dibuktikan dalam sejarah, menjadi umat yang unggul. Karena ilmu agama tidak didikotomikan antara agama dan ilmu umum,” katanya. (ant/ess)

    Bagikan    


Berita Terkait



Facebook  RSS  Twitter
©2011 Kementerian Agama Republik Indonesia